Hadapi Defisit 1.400 Ton Ikan per Tahun, Diskan KSB Genjot Budidaya Air Tawar Berorientasi Bisnis

Sumbawa Barat, NTB Suarajuang.online|Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) mulai melakukan transformasi pengembangan sektor perikanan budidaya dengan menggeser pola pikir para pembudidaya lokal dari sekadar memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga menjadi usaha yang berorientasi bisnis dan pasar. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya meningkatkan produksi ikan lokal sekaligus mengatasi defisit pasokan ikan yang masih terjadi di daerah tersebut.

Kepala Dinas Perikanan KSB, Agus Purnawan, S.Pi., M.M., mengatakan bahwa Kabupaten Sumbawa Barat merupakan salah satu daerah dengan tingkat konsumsi ikan tertinggi di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Namun tingginya kebutuhan masyarakat belum sepenuhnya mampu dipenuhi oleh produksi lokal.

Berdasarkan data Dinas Perikanan, kebutuhan konsumsi ikan masyarakat KSB saat ini mencapai sekitar 6.558 ton per tahun. Sementara produksi ikan yang tersedia baru berada pada angka 5.416 ton per tahun. Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya defisit pasokan sekitar 1.400 ton yang selama ini masih harus dipenuhi dari daerah lain.

“Selama ini sebagian besar pembudidaya kita masih memelihara ikan untuk kebutuhan konsumsi keluarga atau dalam skala kecil. Ke depan, kami ingin mengubah pola pikir tersebut agar budidaya ikan menjadi kegiatan ekonomi yang produktif dan mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” ujar Agus.

Baca Juga:  Jelang Porprov NTB 2026, Dinkes KSB Kerahkan TRC Ambulans Kawal Atlet Pelatda

Menurutnya, sektor perikanan budidaya memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru di Kabupaten Sumbawa Barat, terutama dalam menghadapi era pasca-tambang. Karena itu, pemerintah daerah mulai menempatkan budidaya ikan air tawar sebagai salah satu sektor strategis yang dapat menopang perekonomian masyarakat dalam jangka panjang.

“Ikan air tawar harus menjadi raja di tanahnya sendiri. Kita memiliki potensi lahan, sumber air, dan pasar yang sangat besar. Ini harus dimanfaatkan sebagai kekuatan ekonomi daerah, khususnya dalam mempersiapkan masa depan KSB pasca-tambang,” tegasnya.

Sebagai langkah awal, Dinas Perikanan KSB menargetkan peningkatan produksi melalui program penebaran sekitar 400 ribu ekor benih ikan air tawar. Dari program tersebut, pemerintah menargetkan tambahan produksi hingga 50 ton ikan yang diharapkan dapat membantu mengurangi kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan ikan di daerah.

Namun demikian, Agus menegaskan bahwa bantuan benih tidak akan diberikan secara merata kepada seluruh kelompok pembudidaya. Pemerintah akan memprioritaskan kolam-kolam aktif dan pembudidaya yang benar-benar serius menjalankan usaha budidaya agar program yang dijalankan memberikan dampak ekonomi yang nyata.

Baca Juga:  Dinas Perikanan KSB Verifikasi Data Penerima Asuransi Nelayan 2026, Pastikan Bantuan Tepat Sasaran

“Kami ingin bantuan yang diberikan benar-benar produktif. Karena itu, sasaran utama kami adalah pembudidaya yang aktif dan memiliki komitmen kuat untuk mengembangkan usahanya. Dengan cara ini, hasil yang diperoleh akan lebih optimal dan berkelanjutan,” jelasnya.

Selain meningkatkan produksi, Dinas Perikanan juga tengah menyiapkan strategi pemasaran agar hasil panen pembudidaya memiliki kepastian pasar. Salah satu langkah yang sedang dijajaki adalah membangun kemitraan dengan sejumlah perusahaan besar yang beroperasi di Kabupaten Sumbawa Barat.

Skema kemitraan tersebut diharapkan mampu menciptakan rantai pasok yang lebih kuat sekaligus memberikan jaminan penyerapan hasil produksi para pembudidaya. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya didorong untuk meningkatkan produksi, tetapi juga memperoleh kepastian dalam pemasaran hasil panen.

Meski demikian, Agus menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin pola kemitraan hanya bergantung pada satu perusahaan saja. Diversifikasi pasar dinilai penting untuk menghindari praktik monopoli dan menciptakan iklim usaha yang sehat bagi para pembudidaya.

“Kami ingin ada beberapa mitra yang terlibat sehingga pasar menjadi lebih kompetitif dan pembudidaya memiliki banyak pilihan. Jangan sampai hasil produksi hanya bergantung pada satu pihak,” katanya.

Lebih lanjut, Dinas Perikanan KSB tengah merancang sistem pengembangan perikanan budidaya yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Program tersebut mencakup penyediaan benih, pendampingan teknis, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan kelembagaan kelompok pembudidaya, hingga pengembangan jaringan pemasaran.

Baca Juga:  Desa Poto Tano Lolos Program Kampung Nelayan Merah Putih 2026, KSB Siapkan Dukungan Penuh

Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berharap para pembudidaya dapat tumbuh menjadi pelaku usaha mandiri yang mampu bersaing di pasar serta tidak terus-menerus bergantung pada bantuan pemerintah.

“Kami sedang membangun ekosistem perikanan budidaya yang berkelanjutan. Tujuannya agar pembudidaya dapat berkembang menjadi pelaku usaha yang kuat, mandiri, dan memiliki akses pasar yang jelas. Dengan begitu, sektor perikanan benar-benar bisa menjadi salah satu pilar ekonomi masa depan Kabupaten Sumbawa Barat,” tutup Agus. (Adv/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini.