Sumbawa Barat, NTB – Suarajuang.online | – Gubernur Nusa Tenggara Barat, H. Muhammad Lalu Iqbal melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Sumbawa Barat dengan meninjau langsung Pasar Tana Mira di Kota Taliwang, Jumat (13/3/2026). Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka meninjau proyek revitalisasi Pasar Tana Mira sekaligus memantau harga bahan kebutuhan pokok menjelang Hari Raya Idulfitri. Peninjauan ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan stabilitas harga pangan selama bulan suci Ramadhan.
Dalam kunjungan tersebut, Gubernur NTB didampingi oleh Bupati Sumbawa Barat, H. Amar Nurmansyah, ST., M.Si. Wakil Bupati Sumbawa Barat Hj. Hanipa Musyafirin, S.Pt.,M.M.Inov, unsur Forkopimda, serta sejumlah pejabat daerah. Turut hadir di antaranya Dandim 1628/Sumbawa Barat Letkol Inf Rendra Agit Trisnawan, S.Sos., M.Han., Wakil Ketua DPRD Sumbawa Barat Merliza Jawas, SE., Kepala Dinas Koperasi dan Perindustrian Sumbawa Barat Suryaman, S.STP., M.Si., serta Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Sumbawa Barat Dedy Damhudi, ST., M.Si bersama sejumlah kepala OPD lainnya.
Saat meninjau aktivitas perdagangan di pasar tersebut, gubernur tampak berkeliling menyapa pedagang serta masyarakat yang sedang berbelanja. Ia juga berdialog langsung dengan sejumlah pedagang untuk mengetahui perkembangan harga bahan pokok di tingkat pasar. Dari hasil pemantauan di lapangan, ditemukan adanya kenaikan harga pada beberapa komoditas, terutama cabai rawit yang mencapai kisaran Rp130.000 hingga Rp140.000 per kilogram.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur NTB menjelaskan bahwa pemerintah masih dapat melakukan intervensi terhadap beberapa komoditas yang berada dalam kewenangan pemerintah, seperti beras, gula, dan minyak goreng.
“Terhadap bahan pokok yang masih menjadi kewenangan pemerintah, seperti gula, minyak goreng, dan beras, pemerintah bersama Bulog dapat melakukan intervensi sehingga relatif harganya bisa ditekan di bawah harga pasar,” ujarnya kepada awak media.
Namun demikian, untuk komoditas tertentu seperti cabai, pemerintah memiliki keterbatasan dalam melakukan intervensi karena harganya sangat dipengaruhi oleh mekanisme pasar serta kondisi produksi di tingkat petani.
“Terhadap komoditas seperti cabai, pemerintah agak sulit melakukan intervensi karena sangat dipengaruhi oleh mekanisme pasar,” jelasnya.
Gubernur juga menjelaskan bahwa kondisi cuaca ekstrem belakangan ini turut mempengaruhi produksi cabai di tingkat petani. Banyak petani yang memilih menunda panen hingga setelah Lebaran karena khawatir hasil panen tidak maksimal.
Meski demikian, pemerintah tetap berupaya menekan kenaikan harga dengan melakukan intervensi pasokan dari luar daerah. Menurutnya, pemerintah telah mendatangkan cabai dari daerah Enrekang, Sulawesi Selatan, dengan harga yang lebih rendah dari harga pasar. Cabai tersebut kemudian disalurkan ke sejumlah wilayah di NTB, seperti Lombok Tengah dan Lombok Timur.
Langkah tersebut terbukti mampu menekan harga cabai yang sebelumnya mencapai sekitar Rp120.000 per kilogram menjadi sekitar Rp90.000 per kilogram.
“Pemerintah akan terus melakukan intervensi pasar agar harga tetap terkendali dan tidak terlalu membebani masyarakat,” tegasnya.
Menjawab pertanyaan awak media mengenai pola kenaikan harga cabai yang hampir selalu terjadi setiap tahun menjelang hari besar keagamaan, gubernur mengakui bahwa fenomena tersebut merupakan pola yang berulang. Meski baru sekitar satu tahun menjabat sebagai gubernur, ia mengaku mulai memahami pola fluktuasi harga komoditas di daerah.
“Insyaallah ke depan pemerintah akan melakukan intervensi tidak hanya pada distribusi, tetapi juga melalui program penanaman agar stok komoditas tertentu dapat tersedia secara cukup,” katanya.
Ia juga menilai bahwa kondisi pasar di berbagai kabupaten dan kota di NTB pada umumnya relatif sama, sehingga ke depan diharapkan dapat terbangun sistem distribusi yang memungkinkan daerah satu dengan lainnya saling memasok kebutuhan komoditas. Dengan demikian, ketersediaan bahan pangan di setiap daerah dapat tetap terjaga dan lonjakan harga dapat diminimalkan.
Kunjungan gubernur tersebut juga dimanfaatkan untuk melihat secara langsung perkembangan proyek revitalisasi Pasar Tana Mira yang diharapkan mampu meningkatkan kenyamanan pedagang maupun masyarakat yang berbelanja. Pemerintah berharap revitalisasi pasar tersebut dapat mendorong aktivitas ekonomi masyarakat serta memperkuat peran pasar tradisional sebagai pusat perdagangan rakyat di Kabupaten Sumbawa Barat. (Red)












