Liga 4 NTB: Resmi Provinsi, Rasa Tarkam, Juara 1 Cuma Rp30 Juta

Mataram, NTB – Suarjuang| Euforia membara di GOR Mataram pada gelaran Liga 4 NTB 2026 mendadak berubah menjadi gelombang kritik di media sosial. Bukan karena kualitas pertandingan, melainkan karena hadiah dan trofi juara yang dinilai tak sebanding dengan besarnya antusiasme publik.

Ramai kicauan warganet di berbagai platform menyuarakan nada serupa: hadiah dan trofi Liga 4 NTB disebut kalah kelas dibanding kompetisi sepak bola antar kampung (tarkam).

Sorotan utama publik tertuju pada nominal hadiah juara yang disebut hanya Rp30 juta. Angka ini memicu perdebatan luas karena dinilai tidak sebanding dengan status kompetisi resmi tingkat provinsi.

Warganet membandingkan dengan turnamen tarkam di sejumlah daerah yang bahkan mampu menghadirkan total hadiah ratusan juta rupiah, lengkap dengan trofi besar dan seremoni meriah.

“Ini liga resmi provinsi, bukan tarkam. Tapi hadiah dan tropinya malah kalah dari turnamen kampung,” tulis salah satu akun yang unggahannya viral dan dibagikan ratusan kali.

Perbandingan tersebut semakin menguat karena beberapa turnamen tarkam di NTB maupun luar daerah kerap menghadirkan sponsor lokal, hadiah besar, bahkan bonus tambahan bagi pemain terbaik.

Baca Juga:  RSUD Asy-Syifa’ KSB dan PT Amman Bahas Addendum MoU Layanan MCU Karyawan

Tak hanya soal nominal hadiah, trofi juara juga menjadi bahan sindiran publik. Foto penyerahan piala yang beredar luas memperlihatkan desain dan ukuran trofi yang dianggap terlalu sederhana untuk ukuran kompetisi resmi di bawah naungan asosiasi provinsi.

Sebagian warganet menilai trofi tersebut lebih cocok untuk lomba tingkat lingkungan ketimbang simbol supremasi sepak bola daerah.

Dalam banyak komentar yang beredar, publik menegaskan bahwa trofi bukan sekadar benda, melainkan lambang kehormatan. Klub yang berjuang sepanjang musim, melewati fase penyisihan hingga final, dinilai pantas menerima penghargaan yang lebih representatif.

Liga 4 NTB musim ini justru mencatat animo luar biasa. Harga tiket Rp20 ribu per orang tidak menyurutkan minat penonton. Tribun stadion kerap dipenuhi ribuan suporter yang setia mendukung tim kebanggaan mereka.

Dengan potensi pemasukan tiket yang signifikan dalam setiap pertandingan, muncul pertanyaan besar dari publik: bagaimana pengelolaan anggaran kompetisi?

Baca Juga:  HWM Center di Bawah H. W. Musyafirin Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Kalimango

Warganet mempertanyakan mengapa kompetisi dengan dukungan penonton sebesar itu hanya menghadirkan hadiah Rp30 juta bagi juara dan trofi yang dianggap minimalis.

Kritik pun mengarah pada pentingnya keterbukaan dan transparansi penyelenggaraan oleh Asprov PSSI NTB sebagai otoritas kompetisi tingkat provinsi.

Fenomena ini menjadi ironi tersendiri. Kompetisi antar kampung yang sering digelar secara swadaya justru kerap menghadirkan hadiah lebih besar dan trofi yang lebih megah.

Bagi banyak warganet, perbandingan tersebut terasa menyakitkan. Sebab Liga 4 merupakan jenjang resmi pembinaan menuju level nasional. Secara logika, standar penyelenggaraan dan penghargaan semestinya berada di atas turnamen nonformal.

Sejumlah komentar menyebut bahwa jika kondisi ini terus dibiarkan, citra kompetisi resmi bisa tergerus. Bahkan ada yang khawatir ke depan minat sponsor dan kepercayaan publik akan ikut terdampak.

Terlepas dari polemik ini, publik mengakui bahwa gairah sepak bola NTB sedang tumbuh. Stadion penuh, suporter militan, dan kompetisi berjalan kompetitif.

Baca Juga:  Pemkab Sumbawa Barat Gandeng PT AMNT dan UT School, Buka Beasiswa Mekanik Alat Berat untuk Pemuda KSB

Namun, tingginya antusiasme tersebut dinilai harus dibarengi dengan peningkatan kualitas tata kelola dan penghargaan terhadap klub.

Polemik hadiah Rp30 juta dan trofi yang dinilai kalah dari tarkam kini menjadi refleksi bahwa masyarakat semakin kritis. Mereka tidak lagi sekadar menjadi penonton, tetapi juga pengawal integritas sepak bola daerah.

Publik kini menanti penjelasan resmi dan langkah konkret pembenahan agar Liga 4 NTB ke depan tidak hanya ramai di tribun, tetapi juga berwibawa di podium juara. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini.