Ponpes Tertua di Pulau Sumbawa Nyaris Roboh, 5 Tahun Tak Tersentuh Bantuan: Warga Minta Pemda Prioritaskan Al Manar Desa Seloto

Sumbawa Barat, NTB – Suarajuang | Di sebuah sudut Desa Seloto yang sejak lama dijuluki “Desa Santri”, berdiri bangunan sederhana yang sarat sejarah: Pondok Pesantren Al Manar. Berdiri sejak tahun 1950-an, pondok ini adalah pondok pesantren pertama di Pulau Sumbawa. Dari sinilah lahir banyak tokoh agama, guru mengaji, dan ulama yang mengabdikan diri di berbagai daerah. Lebih dari tujuh dekade, Al Manar menjadi benteng moral dan pusat pendidikan Islam, membentuk karakter generasi dari masa ke masa.

Namun, kondisi yang terlihat hari ini sungguh jauh dari kebanggaan masa lalu. Bangunan-bangunan yang dulu menjadi saksi perjuangan para pendiri kini rapuh dimakan usia. Dinding retak, atap bocor, lantai mulai lapuk, dan sebagian struktur nyaris roboh. MCK rusak total dan tidak layak digunakan, memaksa para santri mencari cara seadanya untuk memenuhi kebutuhan dasar. Rumah untuk ustadz dan ustadzah tidak tersedia, membuat para pengajar harus menumpang atau tinggal jauh dari pondok.

Pimpinan Pondok Pesantren Al Manar, Lalu Mustakim Pattawari, LM,S.Tp.,M.Si

Pimpinan Pondok Pesantren Al Manar, Lalu Mustakim Pattawari, LM,S.Tp.,M.Si tidak dapat menyembunyikan rasa pilunya.

Baca Juga:  Berlanjut ke Jalur Hukum, Kasie “D” Laporkan Camat Seteluk atas Dugaan Ancaman Senjata Tajam

“Pondok ini berdiri jauh sebelum Sumbawa Barat menjadi kabupaten. Dari sinilah banyak tokoh agama lahir. Tapi lima tahun terakhir, kami nyaris tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah daerah. Sementara pondok-pondok lain rutin mendapatkan hibah ratusan juta bahkan sampai miliaran rupiah,” ujarnya dengan nada berat.

Fakta ini memang memprihatinkan. Selama lima tahun terakhir, Ponpes Al Manar nyaris tidak tersentuh bantuan, sementara sejumlah pondok pesantren lain di Kabupaten Sumbawa Barat secara rutin menerima dana hibah mulai dari ratusan juta hingga tembus Rp1 miliar. Bagi warga Desa Seloto, ketimpangan ini bukan hanya soal angka, tetapi soal keberpihakan dan perhatian terhadap sejarah.

Meski fasilitas sangat terbatas, semangat para santri dan pengajar tidak pernah padam. Kegiatan mengaji, belajar kitab kuning, hingga pembinaan akhlak tetap berjalan di ruang-ruang sederhana yang bahkan tak jarang harus menampung lebih banyak santri dari kapasitasnya. Saat hujan deras datang, mereka tetap bertahan di kelas meski harus memindahkan buku dan meja ke sudut ruangan agar terhindar dari tetesan air.

Baca Juga:  Kunjungi Proyek Revitalisasi Pasar Tana Mira, Gubernur NTB Temukan Harga Cabai Melonjak

Bagi masyarakat Desa Seloto, Pondok Pesantren Al Manar adalah warisan berharga yang tak ternilai. Ia bukan sekadar tempat menuntut ilmu agama, tetapi simbol perjuangan dan bukti nyata bagaimana pendidikan Islam telah berakar di bumi Sumbawa Barat sejak lebih dari tujuh dekade lalu. Jika pondok ini runtuh, yang hilang bukan hanya bangunan fisik, tetapi juga nilai sejarah dan identitas masyarakat setempat.

Masyarakat pun menyerukan harapan yang tegas kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Barat. Mereka berharap agar bantuan dan program pembinaan pesantren memprioritaskan Pondok Pesantren Al Manar. Bukan karena semata-mata ia pondok tertua, tetapi karena perannya yang strategis dalam melahirkan generasi berilmu dan berakhlak mulia yang telah terbukti selama puluhan tahun.

“Kami tidak meminta kemewahan, hanya agar fasilitas dasar layak bagi anak-anak yang menuntut ilmu. Kami berharap Pemda menempatkan Pondok Pesantren Al Manar sebagai prioritas, agar sejarah ini tidak punah dan bisa terus mengalirkan manfaat bagi generasi mendatang,” tutur Lalu Mustakim.

Baca Juga:  Nyaris Adu Jotos Saat Apel Pagi, Camat dan Kasie di Seteluk Jadi Tontonan 

Kini, nasib Pondok Pesantren Al Manar ada di tangan para pengambil kebijakan dan kepedulian masyarakat luas. Warga Desa Seloto percaya, jika ada kemauan dan komitmen bersama, pondok ini bisa kembali bangkit—tidak hanya sebagai saksi sejarah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan Islam yang layak dan membanggakan di Pulau Sumbawa. (Investigasi.Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini.