Tiu Suntuk Siap “Naik Kelas”: Wamen Fahri dan Bupati KSB Bahas Transformasi Kawasan

Sumbawa Barat, NTB – Suarajuang|Bendungan Tiu Suntuk bukan hanya proyek infrastruktur biasa. Di balik air yang tertampung, tersimpan harapan besar bagi masa depan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) mulai dari ketahanan pangan, energi, hingga pariwisata berbasis kawasan. Harapan inilah yang menjadi pokok bahasan dalam kunjungan kerja Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Republik Indonesia, Fahri Hamzah, SE, ke Sumbawa Barat pada Jumat (6/6) sore.

Tiba melalui jalur udara dan mendarat di Bandara Benete, Fahri Hamzah langsung menuju kawasan Bendungan Tiu Suntuk di Kecamatan Brang Ene. Kunjungan ini bukan sekadar seremonial, melainkan momen strategis untuk menyusun arah pembangunan kawasan sekitar bendungan secara terencana dan terpadu.

Fahri disambut langsung oleh Bupati Sumbawa Barat, H. Amar Nurmansyah, ST., M.Si, yang turut didampingi sejumlah kepala perangkat daerah, antara lain Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Novrizal SE, Kepala BRIDA Mars Anugrainsyah, dan Kepala Dinas Sosial Ferial SKM.

Baca Juga:  Bersama HWM Center, 85 Anak Ikuti Khitanan Gratis di Bale Central

Dalam diskusi yang berlangsung di lokasi bendungan, Bupati Amar memaparkan konsep pengembangan kawasan yang berorientasi pada pemanfaatan air untuk pertanian, pengembangan potensi energi terbarukan, dan mendorong kawasan sekitar menjadi sentra ekonomi baru berbasis desa.

Fahri Hamzah menyambut positif gagasan tersebut dan menegaskan bahwa Bendungan Tiu Suntuk harus dimaksimalkan manfaatnya untuk berbagai sektor.

“Bendungan ini punya banyak potensi. Bisa dikembangkan untuk pembangkit listrik tenaga mikrohidro, panel surya terapung, perikanan air tawar, bahkan untuk pengembangan wisata air. Jika dikelola secara terpadu, dampaknya akan sangat besar bagi kesejahteraan masyarakat sekitar,” ujar Fahri.

Ia juga menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor, karena pengelolaan kawasan strategis seperti Tiu Suntuk tidak bisa dilakukan secara parsial. Kementerian seperti PUPR, Kementerian Pertanian, dan Kemenko Infrastruktur harus dilibatkan agar rencana penataan kawasan menjadi program nasional yang terintegrasi.

“Ini bukan hanya soal bendungan. Ini soal membangun ekosistem ekonomi berbasis kawasan. Airnya untuk pertanian, energinya untuk rumah tangga, wisatanya untuk UMKM. Semua saling terhubung,” kata Fahri dengan nada optimis.

Baca Juga:  Bersama HWM Center, 85 Anak Ikuti Khitanan Gratis di Bale Central

Selain menyoroti pemanfaatan bendungan, Fahri juga menyampaikan bahwa Kementerian PKP saat ini telah menyiapkan alokasi program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) untuk masyarakat berpenghasilan rendah, khususnya di kawasan pedesaan dan pesisir.

“Secara nasional, kami menyiapkan renovasi untuk sekitar 2 juta rumah tidak layak huni. Daerah tinggal menyiapkan proposalnya. Ke depan, kami sedang siapkan sistem pengajuan digital agar lebih cepat dan transparan,” jelas Fahri.

Program ini, lanjut Fahri, akan menjadi bagian dari upaya mendorong keadilan spasial dan kualitas hidup masyarakat desa, termasuk mereka yang tinggal di kawasan penyangga bendungan seperti Tiu Suntuk.

Kunjungan Fahri Hamzah ke Tiu Suntuk menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah pusat memberi perhatian serius pada potensi pembangunan di daerah. Dengan sinergi yang baik antara pemerintah pusat dan daerah, kawasan sekitar Bendungan Tiu Suntuk diharapkan tidak hanya menjadi pusat pertanian dan energi, tetapi juga ikon baru pembangunan berkelanjutan di NTB bagian barat.

Baca Juga:  Bersama HWM Center, 85 Anak Ikuti Khitanan Gratis di Bale Central

“Tinggal kemauan dan kesiapan daerah. Kalau pemerintah daerah serius, kami di pusat siap bantu penuh. Jangan sampai bendungan megah ini hanya jadi monumen air. Harus jadi sumber kehidupan,” tegas Fahri.

Dengan semangat kolaborasi yang dibangun antara Wamen PKP dan Pemkab Sumbawa Barat, pembangunan kawasan Tiu Suntuk kini tengah menapaki babak baru: dari potensi, menuju realisasi. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini.