Sumbawa Barat, NTB – Suarajuang|Saat rakyat bersuara memperjuangkan haknya, seharusnya kita beri dukungan. Tapi yang terjadi di Sumbawa Barat justru sebaliknya: perjuangan Koalisi Masyarakat Peduli Tambang (KMPT) malah dibalas dengan cibiran. Hal ini menjadi sorotan tajam akademisi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Doktor Zulkarnain.
Dosen FISIP UNY yang dikenal vokal dalam isu-isu pertambangan ini menyebut, langkah KMPT membawa isu kontribusi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) ke Komisi XII DPR RI adalah gebrakan serius yang seharusnya membuka mata semua pihak terutama mereka yang selama ini tutup mata.

“Kabar terakhir, surat permintaan RDP sudah masuk ke Komisi XII DPR RI. Ini bukan main-main. Ini gerakan intelektual yang sadar bahwa cukup sudah masyarakat dibiarkan menunggu janji,” tegasnya.
Tak hanya ke DPR, KMPT juga telah mengirimkan dokumen pendukung ke Presiden RI dan sejumlah kementerian strategis. Termasuk ESDM, LHK, Tenaga Kerja, hingga Ombudsman.

“Kalau KMPT hanya bicara tanpa data, mungkin pantas dicemooh. Tapi ini jelas dokumen lengkap, rujukan kuat. Mereka bergerak dengan kepala dingin dan hati panas,” ujar Doktor Naen.
Ironisnya, lanjutb doktor naen di tengah langkah serius ini, muncul kelompok-kelompok yang justru membela perusahaan mati-matian seolah jadi juru bicara tak resmi Amman Mineral.
“Saya lihat akhir-akhir ini banyak yang tiba-tiba jadi corong perusahaan. Berteriak bahwa Amman sudah berbuat banyak. Sayangnya, mereka lupa masyarakat KSB bukan butuh pencitraan, tapi keadilan,” sindirnya.
Doktor Naen menegaskan, fakta di lapangan tak bisa dibungkam dengan narasi indah. Mulai dari beasiswa yang mangkrak, rekrutmen tenaga kerja yang diskriminatif, tanggung jawab sosial (PPM) yang tak menyentuh akar persoalan, sederet kewajiban perusahaan terhadap tunggakan pajak hingga soal lingkungan yang kian mengkhawatirkan.
“Kalau berani, buka data. Apa saja yang sudah dilakukan Amman? Mana realisasi beasiswa S1 hingga S3? Mana pemerataan kerja? Jangan hanya puas dengan billboard dan seremonial,” tantangnya.
Ia bahkan mengusulkan agar RDP nanti disiarkan secara langsung ‘live streaming’, agar masyarakat tahu siapa yang benar-benar berpihak, dan siapa yang sekadar menjilat.
“Biar rakyat KSB tahu siapa yang selama ini menutup-nutupi fakta. Kita sudah terlalu lama diam. Sekarang saatnya bicara dengan lantang,” tegasnya.
Menurutnya, langkah KMPT tidak hanya soal Amman. Ini soal martabat dan keadilan. Maka siapa pun yang mencoba membungkamnya, patut dipertanyakan: berpihak pada rakyat, atau perusahaan?. (Red)












