Sumbawa Barat, NTB – Suarajuang.online l Desa Kelanir, sebuah desa di kecamatan seteluk yang selama ini bergantung pada program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), tengah menghadapi polemik besar. Sejumlah warga melaporkan hilangnya pipa HDPE sepanjang ± 1.000 meter yang digunakan untuk mengalirkan air bersih dari sumber mata air ke penampungan bak air bersih. Selain itu, pompa air dan pembangkit listrik tenaga ‘panel’ surya yang menjadi bagian penting dari program tersebut juga diduga telah hilang tanpa kejelasan.
Kerugian akibat hilangnya aset ini diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Bukan hanya merugikan negara, tetapi juga menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat yang selama ini menggantungkan kebutuhan air bersih mereka pada fasilitas tersebut.
Kepala Desa Beralasan Panel Surya Dipindahkan
Menanggapi laporan hilangnya pompa air tenaga surya beserta panel surya yang menjadi bagian dari program Pamsimas, Kepala Desa Kelanir, Muslihin memberikan klarifikasi. Ia menyebut bahwa panel surya tersebut telah dipindahkan ke lokasi lain dengan alasan efisiensi penggunaan dan pemanfaatan yang lebih optimal.
Menurut Kepala Desa, lokasi sebelumnya dianggap kurang strategis untuk mendukung distribusi air bersih secara maksimal. “Kami memutuskan untuk memindahkan panel surya ini ke tempat lain agar fungsinya lebih efektif,” ujarnya ketika dikonfirmasi pihak media suarajuang.online via telepon seluler. Pada hari sabtu (25/01/2025).
Namun, alasan tersebut tidak diterima oleh sebagian besar warga yang menilai penjelasan tersebut tidak masuk akal. “Kalau memang dipindahkan, kenapa tidak ada rapat atau pemberitahuan kepada masyarakat? Kami merasa alasan ini dibuat-buat untuk menutupi sesuatu,” ujar salah satu warga yang merasa dirugikan.
Selain itu, warga juga membantah klaim kepala desa bahwa pemindahan tersebut demi efisiensi. Mereka menegaskan bahwa pompa air tenaga surya sudah ada di desa sejak sebelum program Pamsimas diluncurkan pada 2019, sehingga tidak masuk akal jika disebut perlu dipindahkan demi alasan efisiensi.
Hilangnya Pipa HDPE Tambah Polemik
Selain hilangnya pompa dan panel surya, pipa HDPE sepanjang ± 1.000 meter yang menjadi infrastruktur utama untuk menyalurkan air bersih juga dilaporkan hilang. Pipa ini sangat penting untuk mendukung keberlangsungan distribusi air bersih ke bak penampungan yang digunakan masyarakat. Hilangnya pipa ini menambah keresahan warga.
“Kami bergantung pada jaringan ini untuk mendapatkan air bersih. Kalau sampai hilang, ini akan berdampak langsung pada kehidupan kami sehari-hari,” keluh seorang warga lainnya.
Warga Minta Transparansi dan Investigasi Menyeluruh
Warga Desa Kelanir kini mendesak pemerintah daerah, kepolisian, dan instansi terkait untuk segera melakukan investigasi menyeluruh atas kasus ini. Mereka meminta agar pihak desa memberikan laporan transparan terkait pengelolaan aset dan dana program Pamsimas.
“Kami tidak mau masalah ini berlalu begitu saja. Aset seperti ini adalah hasil dari program pemerintah yang seharusnya meningkatkan kesejahteraan kami. Kalau sampai hilang tanpa kejelasan, ini sangat mencurigakan,” kata salah satu tokoh masyarakat setempat.
Kritik Terhadap Pengawasan Program Di Desa
Hilangnya aset penting seperti ini menjadi sorotan tentang lemahnya pengawasan dalam pelaksanaan program pemerintah, terutama di tingkat desa. Banyak pihak menilai bahwa kasus seperti ini mencerminkan kurangnya akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan dana publik.
Pamsimas, yang merupakan program unggulan pemerintah untuk memperluas akses masyarakat terhadap air minum dan sanitasi, seharusnya memberikan dampak positif bagi masyarakat pedesaan. Namun, kasus di Desa Kelanir ini menunjukkan adanya potensi penyimpangan yang merugikan masyarakat dan negara.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada penjelasan lebih rinci dari pemerintah desa mengenai alasan pemindahan panel surya maupun hilangnya aset lainnya. Warga berharap kasus ini segera mendapatkan perhatian serius dari pihak berwenang, agar kebutuhan air bersih mereka dapat kembali terpenuhi dan kepercayaan masyarakat terhadap program pemerintah tetap terjaga.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya transparansi dan pengawasan dalam pelaksanaan program pemerintah, khususnya di wilayah pedesaan. Warga Desa Kelanir berharap keadilan ditegakkan, aset yang hilang segera ditemukan, dan kehidupan mereka kembali normal. Pemerintah pusat maupun daerah diharapkan turun tangan untuk menyelesaikan masalah ini, agar program Pamsimas tetap menjadi solusi nyata bagi kebutuhan air bersih masyarakat. (Red)












